Langsung ke konten utama

Tentang Gue & Mental Health

Hasil gambar untuk depresi

Mental Health. Isu yang dimana-mana diperbincangkan. Mampir di Instagram, ada konten yang isinya tentang kesehatan mental. Mampir di Twitter, ada thread tentang pentingnya menghargai mental kita. Mampir grup Line, ada broadcast tentang seminar Mental Health yang diisi psikolog ternama. Mampir grup Whatsapp, terbentang panjang tulisan mengenai pengalaman seorang depresi yang patut jadi pelajaran. Dimana-mana mental health, mental health dimana-mana.

Sebenarnya, apa sih Mental Health? Emangnya sepenting itu ya, sampai muncul di segala platform media?


Gue sendiri sejujurnya tidak terlalu mendalami isu yang satu ini. Gue lebih tertarik dengan isu-isu lain. Namun, bukan berarti gue gak peduli. Gue tetap mencari tahu sekecil yang gue bisa. Sepemahaman gue, Kesehatan Mental atau Mental Health adalah suatu hal yang sangat penting untuk kita perhatikan karena dapat memengaruhi ke banyak bahkan seluruh aspek kehidupan kita. Kesehatan mental menggambarkan keadaan individu dan kesejahteraannya. Tidak hanya mencakup perasaan, kesehatan mental ini menurut gue bisa memengaruhi cara kita berpikir, bertindak atau mealakukan sesuatu, lebih jauh lagi bagaimana kita meng-handle stres atau tekanan yang menghampiri.


Mental Health, ketika gue denger kata itu, langsung terbayang tentang depresi, stres, putus asa, demotivasi, dan "keburukan" lainnya. Mungkin kebanyakan orang juga berpikir sama kayak gue. Padahal, setelah gue cari tahu, mental health bukan hanya tentang penyakit mental. Mental Health berbeda dengan Mental Illness. Ia benar-benar frase untuk menggambarkan keadaan mental kita. Bahkan beberapa definisi mengatakan kalau "Mental Health" cenderung menggambarkan mental yang sedang baik-baik saja. 


Contoh kecil di atas sedikit menggambarkan diketahui kalau Mental Health belum dikenali seluruh lapisan masyarakat dengan baik. Terlebih hal ini masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Begitu katanya.


Gue sendiri pernah mengalami suatu yang memengaruhi kesehatan mental gue. Belum lama, semester lalu. Saat itu, memang kegiatan gue sedang padat-padatnya disamping tugas akademik yang melimpah. Gue lagi banyak megang event dengan posisi yang gak bisa main-main. Gue adalah vice project officer, gue adalah bendahara, gue adalah vice coor event section, gue sekretaris suatu organisasi, gue bagian dari divisi sponsorship. Belum lagi bumbu-bumbu masalah yang tambah bikin semuanya mumet. Jadwal gue penuh 24/7 ditambah segala improvisasinya. Semoga kalimat ini bisa menggambarkan betapa suntuknya gue.


Gue bukan orang yang bisa meluapkan apa yang gue rasa begitu aja ke orang lain kecuali yang memang deket banget banget banget sama gue. Dan sejauh ini, hanya ada tiga orang. Tapi masalahnya, mereka tersebar. Satu di Turki, satu di Jogja, dan satu di Bogor. Mau jelasin sedetail apapun, gue yakin mereka tetep gak bisa merasakan apa yang gue rasa. Ditambah, cowo gue yang di Bogor juga sedang sama sibuknya sehingga nyari waktu buat ketemu sama aja kayak nyari 7 bola ajaib Dragon Ball. Susah banget. Akhirnya gue pendem aja semuanya sendiri sambil berharap akan berlalu begitu aja.


Gue coba nikmati prosesnya. Jalani semuanya. Tapi, pada ujungnya gue gak kuat. Gue mulai nangis tiap malem gak pernah absen. Ada nada sewot sedikit dari orang gue langsung mau nangis. Salah kata sedikit gue mau nangis. Masuk kamar langsung nangis. Tidur gue makin berkurang, stress gue makin berkembang. Lama-lama gue ngerasa nangis aja udah gak cukup. Gue ngerasa belom bisa ngeluarin semuanya. Gue mulai suka jedotin kepala gue ke tembok, jambak-jambak rambut sendiri, ngelempar barang-barang deket gue, dan sebagainya.


Setelah semua drama itu, gue akhirnya menceritakan semuanya ke cowo gue. Dia hanya bilang satu kalimat simpel, "Lu cuma kurang main aja. Jangan dipaksain. Abis ngurus seharian coba luangin waktu bentar buat main, sesimpel main game di hp." Disitu gue langsung sadar, kalo kebahagiaan diri gue itu nomor satu. Gue harus mengapresiasi diri gue yang udah berjuang melebihi batas. Gue tetep harus seneng-seneng. Toh kalo gue forsir terus hasilnya malah gak maksimal. Lebih baik satu persatu diselesaikan, istirahat dan bersenang-senang, siap menyelesaikan yang lain kemudian.


Buat kalian yang lagi berjuang, jangan lupa untuk istirahat sebentar. :)



Jurnal 24/02/20,S Zahra


 Picture from suara.com


Komentar